Categories
Friendship

Tentang Bendut dari Curhatan Sahabatku

Ini cerita atau curhatan dari salah satu sahabatku gw curi dari blognya…gpp wong tentang diriku juga hehehehe

aniwei thanks banget for this friendship story….pokoknya gw inget kita di WARKOP sampai pagi dengan terpingkal-pingkal…..wah miss that moments….menggila…padahal cuma minum jus atau kopi huahaha……

Aku adalah tipe orang yang selalu punya rencana. Meski terkadang keadaan yang diluar kendaliku memaksaku untuk melakukan yang berbeda dari rencanaku tapi aku tidak pernah kapok berencana. Contohnya saja rencanaku untuk sekolah lagi tahun ini. Rencana ini sudah matang sekali. Aku sudah punya target kapan waktu yang tepat untuk pergi dari kota ini, akan ngekos dimana di Jakarta nanti, bahkan sudah mulai mencicil membeli kemeja dan sepatu resmi untuk bekal sekolah nantinya. Tapi kehilangan yang besar, membuatku membatalkan rencana matang itu. Tapi toh tetap saja aku tidak berhenti berencana. Seperti akhir-akhir ini, aku semakin berencana untuk menyudahi komitmenku di pekerjaan sekarang, dan kembali ke rumah untuk menemani orangtuaku melewati waktu yang sulit ini. Malam ini ketika aku merenungkan tentang rencana ini, otakku mulai berkalkulasi. Apa saja yang sudah kuhasilkan selama 2 tahun bekerja di tempat ini. Materi? ah rasanya biasa saja (bahkan cenderung minim) pundi2 yang sudah kukumpulkan disini.

Keterampilan baru? Ada siy, tapi kayaknya masih dalam tahap yang wajar. Lantas apa?Apakah 2 tahun disini merupakan waktu yang “datar” saja??Mungkin iya, jika saja aku tidak “mendapatkan” bendut disini. Tanpa bermaksud mengecilkan apa yang kudapat dari pekerjaan yang sekarang, tapi jujur, bendut adalah hal besar yang kusyukuri selama 2 tahun ini. Bendut membuat 2 tahun disini begitu istimewa. Bendut adalah “kekayaan” yang kudapatkan 2 tahun ini dan aku yakin sekalipun aku pergi dari sini, aku akan selalu bisa memiliki bendut.

Bendut alias Band Gendut. Itu adalah kami. Beberapa anak muda yang berukuran diatas yang seharusnya, hehe!, yang muda diantara rekan kerja yang terlebih dulu dewasa, yang sama-sama terdampar di kalbar (yang sepi) ini-terpisah dari keluarga, teman, dan juga keramaian kota. Rasanya, kesamaan2 itulah yang mengawali bendut ini (bukan begitu ibu founder?). Jangan bayangkan bendut seperti geng remaja atau ibu2 arisan, yang selalu bersama-sama. Tidak. Kami tinggal dan bekerja di tempat yang berjauhan. Kami hanya bertemu sesekali karena tuntutan pekerjaan. Dan keterpisahan itulah yang pada akhirnya membuat pertemuan bukan sekedar pertemuan. Bagi bendut setiap pertemuan adalah perayaan!! Nongkrong di warung makan pinggir jalan, mengeluarkan nada-nada sumbang dan tarian aneh di karaoke, tertidur-ketawa gila-ngomel2 di bioskop; menjadi agenda perayaan kami. Tapi tak jarang kami juga merayakannya dengan diskusi yang menginspirasi. Kami bukan sekumpulan orang serius.

Bahkan rasanya langka sekali kami bisa serius.Kami adalah orang yang berbeda pendapat dan saling mendebat, tapi entahlah aku belum pernah merasa dilukai. Kami adalah orang-orang lebih sering jujur dengan pemilihan kata yang tidak selalu positif, tapi kami tahu bahwa kami saling mendukung. Kami adalah orang yang banyak sekali tertawa, tapi aku tahu ketika aku terluka, aku bisa mengandalkan mereka. Jangan bayangkan kami sebagai kumpulan yang penuh keseragaman dan komitmen. Ga kok. Bahkan rasanya kami tidak pernah mendefenisikan siapa saja bendut itu dan apa aturannya. Bendut itu terbuka. Tapi memang perayaan itu banyaknya kulalui bersama sintihia, ganda, jemie, celia. Kami bebas untuk mempercayakan apa saja rahasia kami. Tapi kami juga bebas jika kami menyimpan rahasia untuk kami sendiri. Kami bisa bicara tentang apa saja, meski dari sudut pandang yang berbeda. Ahh, aku suka sekali karena kami tetap pribadi yang bebas sekalipun kami adalah bendut, hehe! Kami punya mimpi yang berbeda.

Tapi kami sama-sama mengejar impian kami. Dan impian itu perlahan pastinya membuat hidup kami berbeda. Sinthia sekarang pindah kerja dan tinggal di Ambon. Aku sedang mencoba untuk memutuskan untuk melangkah dalam waktu dekat. Ganda, Celia, dan Jemie juga pasti sedang berjalan menuju impiannya masing-masing. Kami semua sedang mendefenisikan hidup yang kami inginkan dan karenanya, pada saatnya nanti, kami (pasti) akan terpisah lebih jauh lagi. Tapi satu yang pasti, aku selalu bisa memiliki dan membawa bendut dalam hatiku. Bendut, terima kasih yah sudah memperkaya hidupku. Terima kasih, karena kebersamaan ini, waktu 2 tahun yang kulalui tidak menjadi waktu yang biasa saja. Terima kasih karena tertawa bersamaku, dan tetap bersamaku ketika aku menangis. Terima kasih jika kita bisa merayakan kebersamaan kita tanpa harus menjadi pribadi yang sama. Aku tidak tahu apa kemana hidup akan menuntunku selanjutnya, tapi aku tahu aku tetap bisa memiliki kalian. Thank you for being lovely part in my life. Having you in my life, making my life isn’t a life, but a blessed life. (Greengables, 1 Maret 2010. Sebuah refleksi di ulang tahun kerja yang kedua dan refleksi dari seorang yang merencanakan resain, hehehe. Woiiii benduttt, Aku tahu tulisanku ini membuat kalian terharu, tapi tidak usah terlalu mengumbar pujian yah)

find my other stories at: http://rinadebora.wordpress.com/ hehe! rinadebora’s rainy days rinadebora.wordpress.com

By 9reat9

Love writer and hunter

2 replies on “Tentang Bendut dari Curhatan Sahabatku”

dasar loe narsis banget don don….hedondut…..
iya penulisnya emang hebat banget…..bangga gw jadi tememnnya dia lagi mau terbitin buku ke 467nya…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s