Categories
Friendship

The Journey of Friendship Community-Komunitas Sahabat

Kisah tentang Indahnya Persahabatan dan Sederhananya Cinta

” Harta Kekayaan Kami adalah Persahabatan ini dan Harta ini kami peroleh dari arti kesederhanaan mencinta”

“Dunia Semakin Indah Karena Sahabat ADA dan NYATA bagi kami dan mereka” – Komunitas Sahabat

Komunitas Sahabat adalah suatu kumpulan sahabat yang berusaha membagikan rasa syukur dan anugerah dari sebuah persahabatan kepada orang-orang yang membutuhkan sahabat. Anugerah atas kehadiran sahabat yang kami tahu bahwa mereka akan selalu ada walaupun secara fisik tidak selalu dapat kami rasakan,bukankah persahabatan kita dengan Tuhan pencipta kita juga seperti itu? Kita tidak dapat melihatNYA tapi kita sangat tahu dan merasakan bahwa DIA akan selalu ada untuk kita. Anugerah atas keindahan dari perbedaan yang mampu mendamaikan dan menyatukan orang-orang yang berbeda karakter, pekerjaan,  usia,  latar belakang pendidikan, budaya, agama, suku, dan ras. Disaat di tempat lain orang dapat saling mencerca, menghina, mengintimidasi, bahkan saling membunuh satu sama lain karena perbedaan, tetapi kami dengan semua perbedaan kami malah dapat menjadi sahabat. Kadang kami berpikir kami yang aneh atau manusia-manusia diluar sana yang aneh?. CintaNYA sendirilah yang membuat kami mampu untuk membuat perbedaan itu menjadi kekuatan dan keindahan bagi sesama. Anugerah yang satu inilah yang membuat kami sangat bersyukur dan sangking kami begitu merasakan anugerah yang luar biasa banyaknya, kami merasa begitu egois ketika kami menyimpan anugerah itu untuk kami sendiri. Kami ingin dapat membagikan anugerah yang kami dapatkan secara cuma-cuma ini kepada orang yang merasa diabaikan dan ditinggalkan. Kami ingin semua manusia dapat merasakan kehadiranNYA dari sentuhan cinta tulus seorang sahabat. Sentuhan itu tidak selalu tentang masalah uang, wong kami juga sadar kok, SIAPA sih kami ini? Kami bukan anggota legislative yang memiliki banyak uang untuk berdonasi kepada konstituennya: seperti jembatan ataupun sarana air bersih. Kalau kami anggota legislative kami juga akan menuntut dana aspirasi juga ga yah hehehehhe*I*. Pada waktu itu, tepatnya 6 tahun yang lalu kami hanya seorang mahasiswa yang belum bekerja sehingga pastinya tidak memiliki pundi pundi uang untuk dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Pasti orang yang membaca ini akan bilang, apa sih yang membuat kalian itu merasa KAYA, sehingga membuat kalian begitu berani untuk berbuat sesuatu bagi orang lain? Memberdayakan diri sendiri saja kalian belum bisa, apalagi orang lain, dasar anak muda!!jawab kami: Hahahahha……yah gitu deh…namanya juga anak muda selalu angkuh dan merasa dunia ada dalam genggamannya (ga segitu juga kok…). Kan yang MUDA yang BERJAYA. Yah kami selalu merasa kaya dan buat kami Harta kekayaan kami adalah PERSAHABATAN ini, titik.

Pada saat awal kami melakukan kegiatan share and care itu, tepatnya 6 tahun yang lalu (pertengahan tahun 2005), kami waktu itu belum kaya kok (berarti sekarang sudah kaya dong?aminnnn….), wong waktu itu kami juga belum mandiri kok….masih suka nangis juga kok kalau putus pacaran huahahhaha*ga penting banget yang satu ini,, wong sampai saat ini juga masih tersedu sedu kok* hahaha emangnya kopi di sedu? *Stop* deh, tambah ga penting* ok kita lanjutkan….saat itu dengan segala kekayaan anugerahNYa yang ada pada kami, kami begitu memilki keinginan dan tekad yang kuat untuk membagikan anugerah ini dengan berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain. Sampai kami punya motto pada saat itu: “Tidak harus tunggu sampai tua, kaya, dan sukses untuk dapat berbagi berkat dengan orang yang membutuhkan berkat itu. Jika kami tidak punya satupun barang yang harus kami bagikan, kami akan membagikan nilai-nilai dari persahabatan, yaitu indahnya perbedaan yang mendamaikan”. Indahnya ketika kami bergandengan tangan saat berdoa bersama, walaupun kami berbeda agama. Indahnya ketika kami berusaha untuk menyatukan talenta dan anugerah yang ada pada diri kami, walaupun kami berbeda suku, agama, ras dan pendidkan.

Kegiatan share and care pertama kali (pertengahan tahun 2005)  adalah pendampingan kepada anak-anak kurang mampu yang orang tuanya bekerja sebagai buruh, pemulung, dan pedagang sayur di Pasar Minggu. Kegiatannya hanya berupa peminjaman buku bacaan, acara kreatifitas anak, dan ditutup dengan makan siang bersama mereka. Yup lokasinya dekat rumah saya Pasar Minggu. Inilah salah satu bukti bahwa kami ingin membagikan berkat dari lingkungan terkecil. Lokasi yang dipilihpun hasil dari pengamatan saya selama ini. Ketika saya sedang berjalan kaki dari pasar minggu menuju rumah saya, ditengah perjalanan itu saya merasa sangat miris dan ironis melihat satu tempat yang merupakan tempat pembuangan sampah illegal tapi ada keluarga-keluarga yang tinggal di tempat pembuangan sampah tersebut. Ironisnya lokasi ini ada di tengah Komplek Departemen Pertanian dan Komplek perumahan Bank Indonesia. Ironisnya lagi setiap hari dari saya kecil sampai pada waktu itu berusia 21 tahun, saya baru ngeh kalau lokasi itu ada. Bahkan mungkin sampai saat ini kalau ada teman saya yang tinggal di sekitar itu pun juga tidak tahu kalau lokasi kumuh itu ada. Yup lokasinya ada di deretan kompleks elite dan sering dilewati oleh mobil-mobil mewah. Hasil dari pengamatan ini saya laporkan kepada teman-teman tongkrongan kuliah saya yang berbeda fakultas dan berbeda angkatan dan spontan saja kami semua bersepakat untuk melakukan sesuatu untuk anak-anak yang tinggal disitu. Kegiatan sederhana yang terpikir saat itu adalah pendampingan kepada anak pemulung tersebut dengan ruang baca atau pelayanan kesehatan gratis, mengingat kami banyak memiliki sahabat dari Fakultas Kedokteran. Akhirnya kami sebut inisiasi awal tersebut adalah diskusi tengah malam di pinggir kampus. Kami bersepakat untuk melakukan sesuatu dari kekayaan yang ada pada kami, kekayaan yang ada pada kami saat itu hanya persahabatan, hal inilah yang membuat kami juga mengajak sahabat-sahabat kami yang lain. Saya mengajak sahabat SMA saya, sahabat  saya tersebut tertarik dan dia mengajak sahabat di kampusnya, sahabat saya di kampus mengajak sahabatnya di fakultas lain, dan begitu seterusnya sampai saat. Dimulai dari sekitar 10 orang sahabat, Komunitas Sahabat saat ini memiliki sekitar 40 sahabat yang bergabung dalam komunitas ini untuk Share and Care others 🙂 .

Setelah kami mengumpulkan sahabat-sahabat kami, kami melakukan rapat perdana dan rapatnya juga bukan di Hotel Bintang 5 sih. Rapat perdana ini kami lakukan dengan meminjam secara illegal pelataran depan salah satu ruang kuliah Universitas kebanggaan saya =) dan kamipun rapat sambil lesehan. Yang paling berkesan bagi saya saat itu adalah kami dengan anggota yang berbeda agama sepakat untuk memulai dan mengakhiri rapat ini dengan DOA, kami berdoa dengan bergandengan tangan, masih saya ingat sahabat saya yang muslim bertugas untuk memimpin doa pembukaan mengawali dengan kalimat bahasa Arab yang saya sama sekali saya tidak pahami, tapi saat itu saya sebagai Kristiani merasa sangat damai dan indah sekali perasaan saya ketika dia berdoa. Hasil rapat ini kami tindak lanjuti dengan identifikasi target penerima bantuan, koordinasi dengan pemerintahan setempat,konsultasi dengan masyarakat sekitar, dan survey lokasi bersama dengan aparat pemerintah setempat. Menakjubkan bukan? Bagi saya yang secara professional saat ini menggeluti pekerjaan di bidang development dan kebetulan pernah belajar teori tentang Project Cycle Management, merasa hebat, karena saat itu kami tidak punya pengetahuan dan berpengalaman untuk mengimplementasikan program. Saya pun heran darimana saat itu kami dapat memiliki pengetahuan tersebut. Kata-kata identifikasi, koordinasi, dan konsultasi baru dapat saya bahasakan saat ini, tetapi pada saat itu yang kami kenal adalah melakukan pengambilan data berapa jumlah anak yang akan ikut dalam kegiatan ini, tanya-tanya ke masyarakat sekitar tempat itu, dan tanya RT setempat hehehhe….

Langkah awal kami (saya bersama 1 orang sahabat saya) adalah mencari informasi kepada bapak yang punya Bengkel las di depan lokasi itu, kebetulan bengkel beliau adalah langganan Ibu saya dan pada waktu itu kebetulan juga mobil kami sedang di las disitu. Sambil saya check kondisi mobil itu, kami diskusi dengan beliau tentang niat kami untuk mengadakan kegiatan di tempat itu. Bapak itu menjelaskan disini memang banyak warga yang harus dibantu, beliau menceritakan tentang kondisi tetangga beliau yang ada di belakang bengkel sekaligus rumah beliau itu, dan beliau menyarankan untuk berkoordinasi dengan RT setempat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan bantuan itu dapat dipertanggungjawabkan. Beliau juga menyarankan kepada kami sebaiknya tidak melakukan pelayanan kesehatan gratis, walaupun niat kami baik, tapi harus dipikirkan bahwa masyarakat itu terbatas pengetahuannya, jika nanti ada yang jadi tambah sakit karena niatnya kami obati, malah jadi repot dan bisa-bisa kami dituntut warga.

Berdasarkan hasil konsultasi awal tersebut kami beranikan diri datang kepada Ibu RT memperkenalkan siapa kami, serta maksud dan tujuan kami. Kami bersyukur pada saat itu tidak diusir, secara bantuan yang kami berikan itu mungkin tidak bernilai tinggi dan hanya bermodalkan niat tulus aja. Kami bersyukur kami mendapatkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat setempat keinginan kami untuk berbagi kepada anak-anak tersebut diterima dengan baik. Tapi kami juga menghadapi beberapa tantangan. Tantangan pertama yang kami hadapi pada saat identifikasi tersebut adalah Ibu RT menjelaskan bahwa lebih baik kami mengadakan kegiatan share and care tidak di lokasi tempat pembuangan sampah tersebut. Kami sempat kecewa pada awalnya, karena kami merasa warga di situ adalah yang paling membutuhkan, setelah awalnya kami sangat ngotot untuk tetap mengadakan kegiatan disitu, akhirnya kami tercerahkan setelah mendapat penjelasan dari Ibu RT bahwa lokasi tersebut adalah illegal, penduduk yang tinggal disitu illegal sehingga RT tidak memiliki data mereka, dan RT juga tidak mau bertanggung jawab jika kami tetap memaksa untuk melakukan kegiatan ditempat itu. Beliau menegaskan bukannya kami tidak boleh melakukan kegiatan social, akan tetapi lebih baik adakan kegiatan untuk warga yang kondisinya sama seperti mereka akan tetapi tertib secara administrasi kependudukan, ada juga kok dari mereka yang bekerja memulung di situ tapi tinggalnya mengontrak di belakang perumahan ini. Kalau adik-adik tetap mengadakan kegiatan disitu, saya bisa ditegur oleh Pak Lurah karena berarti saya mendukung keberadaan penduduk illegal yang menempati tanah milik orang lain tanpa ijin. Mereka tidak mau mendaftarkan secara resmi kehadiran mereka di tempat ini, walaupun saya sudah berulang kami mendatangi mereka dan meminta mereka untuk melengkapi semua administrasi kependudukan mereka. Kondisi tempat tinggal warga yang legal dan mengontrak di belakang rumah ini tidak jauh lebih baik dari kondisi di tempat pembuangan sampah itu, nanti kalian bisa melihat sendiri dan saya akan menunjuk anggota saya untuk meninjau lokasi tersebut dan lokasi di pembuangan sampah juga.

Setelah koordinasi dengan Ibu RT kami ditemani Bapak ketua bidang Humas, melakukan survey di 1 lokasi dari 2 lokasi yang telah dijelaskan. Lokasi kedua akan kami tinjau pada keesokan harinya karena hari juga sudah malam. Lokasi pertama yang kami tinjau adalah di tempat pembuangan sampah itu. Pertama kali memasuki gerbang yang terbuat dari seng dan tripleks sebagai pembatas lokasi itu, semua mata menuju kepada kami, sedangkan mata kami masih tertuju pada tumpukan sampah yang menggunung dan berbau busuk di tempat itu. Saya dan seorang teman berusaha untuk tidak menunjukan muka tidak nyaman, dan jijik. Awalnya kami memang khawatir dan takut, apa yah kalimat awal yang harus kami katakan kepada mereka, apa yang tindakan mereka terhadap kami yang saat itu kok liat-liat aja? Fiuh….lalu seorang bapak mendekati kami dan beliau bertanya “Cari siapa yah de? Kemari de, itu ada gerobak sampah mau lewat” sikap beliau yang ramah membuat ketakutan kami hilang dan membuaat kami spontan tersenyun sebelum menjawab pertanyaannya. Spontanitas itu mencairkan kebekuan dan menghilangkan rasa takut kami. Senyum yang sederhana tapi tulus ternyata dapat mencairkan kebekuan dan menghilangkan rasa takut. Memang benar Komunitas Sahabat itu lahir dari sebuah kesederhanaan dan mengawali persahabatan dimulai dari langkah kecil dengan cinta yang besar, yaitu SENYUM. Kembali ke cerita saya, bapak yang bertugas mendampingi kami menjelaskan kepada beliau bahwa kami hanya ingin melihat lokasi dan tanya-tanya saja kalau mereka tidak keberatan, untuk keperluan bahan skripsi kami…Maafkan kami Tuhan, tapi pada saat itu entah mengapa kami sendiri juga tidak berani mengutarakan keinginan kami untuk melakukan kegiatan disitu karena kami takut mereka kecewa jika kami tidak jadi datang lagi untuk berikan bantuan. Dan ternyata memang benar berdasarkan hasil konsultasi dan koordinasi kami dengan pemerintah dan masyarakat setempat kami sepakat tidak jadi melakukan kegiatan di lokasi tersebut tetapi kami mengalihkannya di lokasi yang keadaan social ekonomi masyarakat dan tempatnya tidak jauh lebih baik dari tempat tersebut, tapi masyarakat tersebut secara legal keberadaannya diakui oleh pemerintah setempat. Lalu setelah kami berdiskusi dengan bapak dan ibu di tempat tersebut, kami meninjau keadaan di tempat itu, kami melihat bagaimana rumah-rumah kumuh dari tripleks sedapatnya itu di huni oleh 6 anggota keluarga (tidak dapat saya bayangkan jika sedang hujan deras), lokasi MCK 2 pintu untuk digunakan bersama, dan sumber air yang jauh dari syarat kesehatan untuk dikonsumsi sebagai air minum ataupun keperluan domestic lainnya, dengan nyata kami lihat bagaimana anak-anak juga menjadi pekerja anak (pemulung) dan dengan nyaman mereka dapat tidur dan bahkan makan ditemani bau busuk dari sampah, ya sampah yang telah menjadi sumber penghidupan mereka. Inilah kedua kali saya melihat langsung kondisi seperti itu bukan dari TV yang saat itu belum banyak program-program reality show atau poverty shownya 😀 .

Keesokan harinya kami lanjutkan untuk meninjau lokasi kedua yang telah kami putuskan untuk menjadi menjadi target area kami. Lokasinya ada dibalik perumahan yang cukup megah,kami memasuki lorong kecil untuk sampai disana dan ketika kami memasukit tempat itu kami melihat puluhan bahkan ratusan rumah petak yang disewakan dan padat penduduk. Kami disambut dengan jemuran yang begitu banyak, yang saya pikir akan sulit kering karena Sinar Matahari terhalang oleh bangunan rumah-rumah tinggi. Kami melihat satu per satu keadaan rumah petak yang hanya terbuat dari triplek saja. Rumah petak itu kondisinya sangat tidak memadai untuk dihuni oleh 6 orang anggota keluarga. Jangankan bicara tentang sanitasi dan air bersih, untuk jalan saja hanya muat satu orang dan rumah petakan tersebut berhadapan langsung dengan saluran pembuangan limbah (Got). Kamar Mandi yang tersedia digunakan secara bersama dan didepan rumah petak itu ada halaman besar yang digunakan bersama sebagai tempat mencuci piring, bahan makanan, dan baju, sehingga halamannya sangat kotor oleh genangan air limbah dan lumut-lumut. Tapi kondisi rumah petak itu masih jauh lebih baik daripada keadaan kontrakan 1 kamar yang sangat sempit tapi dihuni oleh 3 orang anggota keluarga. Penghuninnya mengakali kamar yang sangat sempit tersebut dengan design minimalis yaitu menyekat bagian atap kamar mereka dengan triplek agar dapat digunakan sebagai lemari. Kamar itu hanya muat untuk 1 tempat tidur dan meja tempat kompor minyak. Kondisi kamar kontrakan yang lainpun keadaannya juga sama, ada kamar yang kami lihat begitu penuh dengan tumpukan Koran bekas dan botol/gelas air mineral kemasan yang akan mereka jual kepada pengepul. Ketika kami datangi (survey) kamar/rumah petakan tersebut satu persatu untuk mengobrol dg penghuninya dan memverifikasi data yang sebelumnya telah diberikan oleh Ibu RT, penghuni kamar tersebut sempat merasa tidak enak menyambut kami dalam rumah mereka, tapi kami berhasil menyakinkan mereka bahwa kami yang sangat berterimakasih sudah mau diterima dengan sangat bersahabat. Saat itu kami juga meminta ijin untuk memfoto tempat itu agar teman-teman kami dalam Komunitas Sahabat dapat melihat gambaran target area dan calon penerima manfaat. Kami foto bagian yang sangat kotor dan kamar sempit yang sebenarnya juga tidak layak huni untuk 1 orang tapi ini dihuni oleh satu keluarga!!.

Sebenarnya hal itu bukan pertama kali saya lihat tentang sisi lain kota Jakarta, pertama kalinya saya melihat secara live kondisi yang tidak jauh lebih baik dari kondisi masyarakat yang tinggal tempat pembuangan sampah tersebut adalah ketika saya tidak sengaja melihat bagaimana satu keluarga dengan 2 anak usia SD dan 1 bayi tidur dengan lelap di pinggir jalan, beratapkan langit, dan beralaskan karton. Sepanjang perjalanan saya melihat ternyata bukan hanya satu keluarga yang tidur di sisi jalan tersebut tetapi ada beberapa keluarga. Ternyata bagi keluarga tersebut tinggal di kolong jembatan pun merupakan barang mewah bagi mereka. Saat itu bukan karena hati nurani atau keinginan saya untuk dengan sengaja melihat kondisi factual sisi lain dari megah dan mewahnya Ibukota Negara ini, tapi saat itu saya merasa Tuhan ingin menegur saya, karena malam itu sekitar jam 23:00, saya bersungut-sungut karena harus berjalan jauh dengan sahabat saya untuk mencari tambal ban dikarenakan ban motornya bocor.

Begitu melihat bayi dan anak-anak tersebut tidur di pinggir jalan, beralaskan karton, dan beratapkan langit, saya seketika itu juga langsung tertampar *plak*, hanya berjalan jauh saja sudah bersungut-sungut, mereka saja harus tidur dengan ditemani siaran radio yang bising (suara mobil dan motor yang berlalu lalang), debu, dan asap polusi dapat tidur dengan nyenyak. Sambil menunggu ban motornya diperbaiki saya ngobrol dengan Bapak tukang tambal ban dan menanyakan kondisi beberapa keluarga tersebut, saya berusaha bertanya dengan sopan tentang apa aktifitas mereka, darimana mereka berasal, bagaimana mereka bisa tidur jalan, dimana mereka mandi, dimana mereka masak, dalam hati saya bertanya “mungkinkah mereka bersekolah? bagaimana kondisi kesehatan mereka terutama bayi dan anak-anak yang harus tidur melawan dinginnya udara malam, suara bising, debu, dan asap dari kendaraan bermotor?. Bapak tukang tambal ban itu menjelaskan “yah begitulah dek keadaannya, bener banget tuh ungkapan “siapa suruh datang Jakarta”,!!! karena dateng ke Jakarta jadinya mereka sekeluarga harus mandi di Masjid belakang itu, dan yah tidurnya memang disitu (pinggir jalan). Yah gima? untuk makan saja susah apalagi sewa rumah. Saya saja tinggal disini de, ini gubuk sekaligus tempat kerja saya, macam Rukolah hahahaha. Bapak itu jelasin karena beliau juga tidur dan bekerja disitu makanya beliau bisa buka tambal ban 24 jam. Tapi de kalau boleh memilih kami pun juga tidak mau de seperti ini, niat awal kami mencari kehidupan dan penghidupan yang lebih baik, Yahhhh daripada di desa harus menjadi buruh tani yang menggarap puluhan hektar sawah tapi diupah kecil. Saat mendengar penjelasan beliau saya bingung entah bagian mana dari Kota ini yang membuat mereka bermimpi untuk meninggalkan rumah mereka yang sederhana di Desa dengan halaman yang dapat mereka Tanami dengan sayuran, buah-buahan, dll yah setidaknya rumah itu membuat mereka terhindar dari dinginnya malam dan penyakit berat seperti bronchitis. Kalau didesa, mereka pastinya terhindar dari penggusuran Satpol PP yang menunaikan tugasnya untuk mentertibkan kota dengan menggusur ataupun menyita gubuk dan peralatan tambal ban lainnya. Yup benar, bapak itu bercerita bagaimana berkali –kali peralatan tambal ban satu-satunya harta yang dia miliki itu sering disita dan gubuknya di gusur. Lalu kenapa kalau digusur dan disita berkali-kali tidak pindah saja dan kenapa bapak tidak kembali ke desa saja pak? Wah de….jawab beliau, semua yang numpang tidur ataupun dirikan gubuk seperti saya ini ga ada uang de untuk pulang kampunng, malu jugalah udah pergi ke Jakarta kalau kembali ke Kampung tidak sukses, pernah dulu sekalinya saya lagi banyak rejeki dan bisa menabung, eh Musibah datang saya digusur dan disita semua alat-alat tambal ban saya, sehingga tabungan saya habis untuk tebus barang saya yang disita, jadi de kalau mau barang sitaan kembali yah harus bayar uang tebusan kepada mereka dan juga orang seperti saya ini mau kemana lagi de?? Orang seperti kami ini mau pindah ataupun tinggal dimana saja selama masih di Jakarta yah pastinya akan dapat perlakuan yang sama. Ternyata sebegitunya kerasnya untuk survive di Ibukota Negara saya tercinta ini. Selesai bapak itu menambal ban motor kami, kami siap-siap pulang. Sahabat saya saat itu sampe meminta maaf berkali-kali karena jadinya saya pulang sangat larut malam, tapi saya mengatakan kepada sahabat “loe ga perlu minta maaf lagi, malah gw yang sangat berterima kasih bisa lihat sisi lain Jakarta”. Sekali lagi saya belajar bersyukur dan rendah hati dari mata kuliah kehidupan yang DIA sendiri menjadi dosennya. Mata kuliah kehidupan yang memerlukan waktu belajar a life time 🙂

Berdasarkan dari kisah-kisah diatas dan hasil dari kegiatan assessment and consultation process with authorities and communities itu kami kemudian bersepakat untuk melakukan kegiatan dengan muatan pendidikan untuk anak-anak usia SD. Berupa kegiatan bermain sambil belajar. Semua logistic dari kegiatan ini murni dari swadaya kami dan orang terdekat kami. Kami menggunakan buku-buku yang kami miliki untuk dapat dibagikan dan dipinjamkan. Pengorganisasian acara, juga kami konsep sendiri berdasarkan pengalaman kami ketika mengadakan acara Kampus. Kami sempat mengalami hambatan untuk pos anggaran Snack dan Makan Siang. Akan tetapi hal ini teratasi dengan support dana dari teman kami yang baru saja diterima bekerja.

Tidak sedikit tantangan yang kami hadapi untuk kegiatan ini seperti halnya: omelan dari orang tua karena pulang larut malam untuk persiapan acara, anjuran orang terdekat kami agar lebih baik bagi beberapa diantara kami yang saat itu baru saja lulus kuliah dan menunggu panggilan kerja, untuk lebih giat lagi mencari pekerjaan daripada sekedar mencari data dan habiskan waktu,tenaga, dan pikiran untuk kegiatan yang tidak dapat penghasilan. Musibah juga menimpa salah seorang sahabat kami ketika dia sedang melakukan inputing data target beneficiaries di sebuah warnet, motornya yang diparkir di depan warnet itu dicuri orang padahal dia belum dapat kerja dan mendapat tuntutan untuk segera bekerja . Tidak hanya itu kami juga sempat mendapatkan kesinisan dari beberapa orang, karena bantuan yang kami berikan ini tidak akan berguna, karena apa gunanya Cuma mendampingi anak-anak tersebut untuk dapat bermain sambil belajar? Bahkan ketika kami dengan sedikit semangat menceritakan kegiatan seperti ini, semangat itu diruntuhkan orang lain dengan pernyataan “Cuma itu Saja?”. Tapi kami tidak putusa asa dan dengan semangat yang tinggi tetap mengorganisir kegiatan Share and Care ini.

Saat mendekati hari H kegiatan share and care ini saya harus pergi untuk bekerja di Aceh Utara. Waktu itu saya sangat berat meninggalkan Jakarta ke Aceh Utara, karena salah satu yang membuat saya menjadi berat adalah harus meninggalkan Komunitas sahabat yang baru terbentuk ini dan berarti saya harus absen pada saat kegiatan Share and Care. Saya ingat betapa beratnya untuk menyampaikan kepada sahabat-sahabat saya, bahwa dalam waktu dekat saya harus pergi ke Aceh Utara dan tidak dapat mengikuti kegiatan Share and Care ini. Sebagai solusi akhirnya kami sepakat memutuskan Asti sahabat saya SMA yang dari awal bersama dengan saya saat melakukan identifikasi dan survey untuk menjadi sebagai Koordinator Kegiatan. Awalnya dia sangat menolak akan tetapi kami berusaha terus meyakinkan dan memotivasi bahwa dia mampu menjadi coordinator. Kami mensyukuri bahwa Asti bersedia menjadi Koordinator Komunitas Sahabat, menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik sehingga Puji Tuhan, Alhamdulilah kegiatan Share and Care perdana kami berjalan dengan lancar dan saya yakin luar biasa. “SELAMAT GUYS, really thanks God that we could make this happened!!!”….begitu bunyi email saya kepada mereka….Kebahagiaan yang mereka rasakan dari hecticnya persiapan teknis sampai Hari H mampu melintasi ruang dan waktu, sehingga walaupun saya sangat jauh dari mereka, saya pun dapat merasakan kebahagiaan dan sukacita mereka pada waktu itu. Saya yakin mereka akan tetap melanjutkan doa bersama pada saat memulai dan mengakhiri kegiatan.

Sahabatku tulisan ini dibuat untuk menapak tilas lahirnya Komunitas Sahabat 6 tahun lalu. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan kita bahwa kita belum melakukan apa-apa. Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengingatkan kembali semua sahabat-sahabat kami, bagaimana dulu ketika kita belum memiliki pekerjaan dan penghasilan, dari segala kekurangan kita, kita mampu memberikan yang terbaik dan berbagi anugerah bagi sesama. Tulisan ini dibuat untuk memotivasi kita dengan berkatNYA yang semakin bertambah (PASTINYA) di hidup kita, membuat kita semakin berjuang dan berusaha untuk meningkatan cinta kasih dan kepedulian bagi sesama. Jika dulu semangat kita sempat turun karena kalimat “Cuma itu aja”. Sekarang kita ditantang dengan semangat yang jauh lebih tinggi untuk berbuat “lebih dari itu”.

Persahabatan itu Puji Tuhan masih kami jalin hingga saat ini seiring dengan masih berjalannya kegiatan-kegiatan Share and Care Komunitas Sahabat.

Kegiatan Share and Care Komunitas Sahabat saat ini Puji Tuhan masih berjalan dengan rutin, walaupun masih sebatas dalam event tahun baru, lebaran, puasa ramadhan, ulang tahun, ataupun natalan.

Tulisan ini dibuat untuk menyatukan kembali semangat kita dan kemungkinan untuk kita dapat kembali ke lokasi target awal kita dan merintis sebuah Children Centre.” Tidak ada hal yang tidak mungkin, sekalipun itu adalah mimpi yang seakan mustahil”.

By 9reat9

Love writer and hunter

2 replies on “The Journey of Friendship Community-Komunitas Sahabat”

Terima kasih atas atensi dan apresiasinya 🙂 iya bukan saya tapi kami SAHABAT KOMUNITAS SAHABAT…..apa yang kami lakukan hanyalah hal kecil 🙂 Kami hanya belajar bersyukur dengan “MENULARKAN” Kebahagiaan kami karena memiliki SAHABAT, Kami coba tularkan kepada MEREKA yang MEMBUTUHKAN SAHABAT.

Mulailah dari hal kecil…terpanggil, tergerak, dan berbuat SEGERA 🙂

Tidak diperlukan dorongan dari pengalaman hidup seseorang untuk berbuat sesuatu bagi mereka yang membutuhkan 🙂 Lihat sekitar kita, bagikanlah rasa syukur itu dengan TINDAKAN KASIH YANG NYATA 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s